Selasa, 09 Juni 2009

Amber Academy -Joshua…Gambling (Part 1)-

Pada suatu rumah di desa terpencil Raccutti, hiduplah seorang anak laki-laki yang sekarang hidup dalam kemelaratan akibat perjudian yang dilakukan ayahnya, ialah Joshua.

Pada hari yang panas itu, Joshua tengah mengotak-atik kalkulator butut yang setia menemani hidup suramnya selam 9 tahun, yang harus dibanting sebelum dipakai, sambil mendengarkan radio yang tidak kalah bututnya dan tinggal tunggu ajalnya itu karena senggang, sampai radio itu memainkan lagu “Gambling” milik “Tambal band”, yang reff-nya diulang-ulang sepuluh kali itu, mengusik ketenangannya dan membuat tangannya gatal untuk membanting radio butut itu untuk menemui ajalnya.

Mungkin memang abnormal jika hanya dengan mendengar lagu yang kita benci kita langsung melampiaskan kekesalan kita pada medium yang lain. Namun, tidak dalam kasus Joshua, karena lagu menjijikan itu mengingatkannya dengan ayah yang telah menghancurkan hidupnya hanya demi hal kosong yang tak berarti dan membuatnya kehilangan akal sehat.

Peristiwa itu terjadi saat ia masih berusia 9 tahun…

“Joshua, sedang apa kau di situ, ayo segera pergi, nanti kita terlambat!” Teriak Ibu Joshua, Jennifer kepada anaknya yang masih memakai sepatu itu.

“Ah, ya! Tunggu sebentar! Teriak Joshua seraya mengikat tali sepatunya secepat kilat.

Akhirnya setelah Joshua mengikat tali sepatunya, ia menyusul ibunya untuk naik ke sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Weller, sopir dari Asosiasi yang menunjuk Joshua menjadi kontestan Olimpiade Matematika yang akan menjadi pengantar Joshua ke tempat diadakannya Olimpiade matematika tahun itu.

“Ibu… ibu marah padaku ya?” Tanya si kecil Joshua pada ibunya

“HAH?!” Jawab Ibunya dengan ekspresi yang bisa membuat anak yang susah dibuat menangis pun menangis

“Ah, maaf, ibu hanya memikirkan ayahmu yang sudah 3 kali puasa dan lebaran tidak pulang-pulang itu…” Jawab ibunya dengan ekspresi muka yang lebih tepat dibilang ingin membunuh daripada sekedar kepikiran

“Ahahahaha, intinya… ibu kangen ayah?” Tanya Joshua yang mencoba mencari perumpamaan yang bagus karena kata-kata dan ekspresi ibunya sama sekali berlawanan

“Tentu saja, ibu kangen berat sama ayahmu itu sampai-sampai ibu ingin membuatnya merasakan bagaimanakah rasanya hamil itu dan harus mengurusi anak seorang diri!!!” Jawab ibunya dengan ekspresi yang 10 kali lipat lebih menyeramkan dari yang tadi, apalagi ditambah dengan kelakuan aneh ibunya yang berniat menusuk-nusukkan linggis ke boneka voodoo berbentuk muka ayahnya itu

“I…IBU! NGAPAIN BAWA-BAWA BONEKA VOODOO SEGALA SIH?! LAGIAN DAPAT DARIMANA COBA LINGGIS ITU?! EH, YANG LEBIH PENTING LAGI NANTI AYAH HAMIL LHO!!!” Teriak Joshua panik karena ibunya mulai berbicara ngaco

“Kau ini, Daripada memikirkan ibu, lebih baik kau memikirkan olimpiade kali ini” Protes ibunya pada Joshua yang merasa ‘ Ritual ’ pelampiasan stressnya diganggu oleh Joshua.

“IBU!!! MANA ADA SIH ANAK NORMAL YANG DIAM SAJA JIKA MELIHAT IBUNYA MULAI MEMIKIRKAN HAL GILA SEPERTI MEMBUAT SUAMINYA SENDIRI HAMIL!?” Teriak Joshua makin panik sambil membuang linggis dan boneka voodoo ibunya keluar jendela.

Sebelum ibu Joshua sempat memprotes Joshua lagi, Weller mengatakan bahwa mereka telah sampai ke tempat tujuan. Dengan cepat Joshua menarik ibunya turun dari mobil dan memasuki gedung tinggi yang ada di depan mereka sebelum ibunya bertindak yang aneh-aneh lagi.




Cat :
Cerita ini sepenuhnya adalah fiksi. Bila ada kesamaan tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa itu hanya kebetulan yang disengaja.
Jadi bila ada yang tidak berkenan dihati mohon dimaafkan.


Kepala produksi
-Sebastian-
Penasehat produksi
-Green Leaf-
Seksi sibuk
-Shieru-
Seksi pelampiasan
-Earl-
Tukang komen
-Brotherland-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar